Bayi 2 Bulan Meninggal di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Keluarga Beberkan Dugaan Lambatnya Penanganan

SUNGGUMINASA, iNews.id – Duka mendalam menyelimuti pasangan Ismail dan Andini setelah bayi mereka yang baru berusia dua bulan, Muhammad Attar, meninggal dunia di UGD RSUD Syekh Yusuf Gowa, Sabtu (13/6/2026) dini hari. Keluarga menduga kematian Attar dipicu lambatnya penanganan dan buruknya pelayanan medis yang diterima selama berada di rumah sakit.

Menurut Lisa, tante korban, Attar mengalami demam tinggi selama tiga hari berturut-turut. Pada hari pertama dan kedua, orang tua korban membawanya berobat ke Puskesmas Barombong. Bahkan, sampel darah sempat diambil, namun hasil pemeriksaan laboratorium tidak pernah diberikan kepada keluarga.

Karena kondisi Attar tak kunjung membaik, keluarga kembali mendatangi puskesmas pada hari ketiga. Petugas kemudian menyarankan agar bayi tersebut segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

“Kami mengikuti arahan tersebut karena khawatir kondisi Attar semakin memburuk. Dari situlah keluarga memutuskan membawa Attar ke RSUD Syekh Yusuf dengan harapan bisa mendapatkan penanganan yang lebih cepat dan maksimal,” ucap Lisa.

Menjelang Magrib, Jumat (12/6/2026), Attar dibawa ke RSUD Syekh Yusuf dan mendapat penanganan di UGD. Namun, keluarga mengaku mulai menemukan sejumlah kejanggalan dalam pelayanan medis yang diberikan.

Keluarga menyoroti pemasangan infus yang diduga tidak terpasang dengan baik hingga cairan dan darah keluar dari tangan korban. Selain itu, keluhan sesak napas yang berulang kali disampaikan keluarga disebut tidak mendapat respons serius dari dokter yang menangani.

Sekitar pukul 20.00 WITA, petugas mengambil sampel darah korban. Setelah itu, kondisi Attar disebut memburuk drastis. Bayi tersebut mengalami sesak napas berat, tubuh menguning, dan matanya mengarah ke atas. Oksigen baru dipasang setelah kondisinya semakin kritis.

Pada pukul 23.00 WITA, dokter menyatakan korban harus dirujuk ke rumah sakit lain di Makassar karena keterbatasan penanganan. Meski keluarga langsung menyetujui, proses rujukan tak kunjung terlaksana hingga dini hari.

Hingga pukul 03.00 WITA, keluarga mengaku hanya mendapat informasi bahwa rumah sakit tujuan masih penuh dan pihak RSUD Syekh Yusuf masih menunggu konfirmasi dari rumah sakit rujukan.

Di tengah kondisi kritis tersebut, keluarga juga menilai pengawasan tenaga medis sangat minim. Menurut mereka, petugas jarang melakukan pemeriksaan berkala dan baru mendatangi pasien setelah dipanggil keluarga.

Sekitar pukul 04.00 WITA, Muhammad Attar dinyatakan meninggal dunia di UGD sebelum sempat dirujuk. Keluarga mengaku semakin kecewa karena setelah korban meninggal, tidak ada tindakan cepat dari petugas hingga keluarga terpaksa melepaskan sendiri sejumlah alat medis yang masih menempel di tubuh korban.

Kekecewaan juga muncul saat keluarga meminta ambulans untuk mengantar jenazah pulang. Mereka mengaku mendapat respons yang dinilai kurang empati dan terkejut karena layanan ambulans tersebut tetap dikenakan biaya.

“Kami sangat terpukul. Bukan hanya karena kehilangan Attar, tetapi juga karena pelayanan yang kami rasakan selama mendampingi Attar di rumah sakit,” ungkap Lisa.

Sementara itu, Direktur RSUD Syekh Yusuf, Dr Gaffar belum memberikan tanggapan meski telah beberapa kali dikonfirmasi terkait keluhan keluarga korban.

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *